Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI)

Pelaksanaan Konferensi Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang diadakan di Hotel Arya Duta Medan tanggal 22 Agustus 2017 berlangsung dengan baik. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia. Ketua Panitia yaitu Prof. Dr. Syafruddin Ilyas, M.Biomed (FMIPA-USU) menyampaikan kata pembukaan pelaksanaan Konferensi KOBI. Secara resmi konferensi dibuka oleh Rektor Universitas Sumatera Utara dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E. (Wakil Rektor IV Universitas Sumatera Utara) yang ditandai dengan adanya pemukulan GONG oleh Wakil Rektor IV USU, Ketua KOBI Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. (UGM), Dewan Penasehat KOBI Prof. Dr. Suwarno Hadisusanto (UGM) dan Dr. Adi Pancoro (ITB). Wakil Rektor IV menyampaikan rasa bangga dengan terlaksananya KOBI di Medan tentunya dengan harapan bahwa para ahli yang tergabung dalam KOBI dapat meningkatkan peran penting dalam Pemanfaatan dan Pelestarian Biodiversitas Indonesia yang juga merupakan tema dalam acara tersebut. Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari telah terencana dengan baik, tertuang dalam tata tertib acara yang dicetak panitia dan dibagikan kepada seluruh peserta yang hadir.

Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E

(WAKIL REKTOR IV UNIVERSITAS SUMATERA UTARA)

Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc.

KETUA KOBI (UNIVERSITAS GADJAH MADA)

Menurut ketua KOBI Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. (UGM) dalam laporan perkembangan KOBI menyampaikan bahwa KOBI bertujuan berperan aktif dalam pengembangan pendidikan tinggi biologi dalam penguasaan keanekaragaman hayati, untuk pemanfaatan sumber daya alam hayati (Bioresources) secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan umat manusia dan kelestarian lingkungan melalui langkah-langkah :

  1. Menghimpun lembaga-lembaga pendidikan tinggi di bidang biologi baik pemerintah maupun swasta.
  2. Melakukan komunikasi, menjalin kerjasama dan bersinergi dengan lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang biologi dan bidang terkait, baik di dalam maupun di luar negeri.
  3. Membantu pemerintah dalam pembangunan berbagai sektor kehidupan yang terkait dengan bidang biologi.

Beliau juga menyampaikan bahwa harus diakui bahwa perkembangan keilmuan Biologi sebagai fundamental Science atau ilmu dasar di Indonesia kenyataanya kurang bersinar, jikalau tidak memprihatinkan. Hal ini dapat terjadi karena Biologi sebagai Rumpun Keilmuan yang cukup luas cakupannya berupa Bonggol/Cabang Keilmuwannya dianggap belum mampu memberikan prospek profesi selain guru, dosen dan peneliti di lembaga penelitian. Kondisi ini juga diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap profesi Biolog baik sebagai dosen maupun ilmuwan atau praktisi di bidang Biologi di Indonesia, sehingga mereka yang memang ingin mendalami Biologi dan cabang-cabang keilmuannya, tentu saja akan merasa lebih menguntungkan jika bekerja di bidang atau sektor lainnya. Belum adanya Departemen atau setingkat Kementrian yang secara langsung mengembangkan potensi profesi Biolog juga berimplikasi pada ketidakjelasan jenis pekerjaan yang umumnya bermuara pada Kementrian atau Departemen terkait.

Di tingkat dunia juga terlihat ketidakberfihakannya terhadap Biologi dan Para Biolog. Sebagai contoh meski jumlah peraih Nobel Bidang Kedokteran dan Fisiologi lebih banyak disandang oleh Para Biolog dibandingkan Para Dokter kesehatan, namun ironisnya tidak ada kategori Nobel bidang Biologi untuk penelitian dan para peneliti di bidang Biologi, lain halnya dengan Nobel di bidang Kimia dan Fisika.

Keprihatinan tersebut semakin terbukti, sebagaimana yang dilaporkan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, bahwa jumlah ahli pengelompokan jenis flora dan fauna (Taksonom) yang merupakan cabang ilmu krusial dalam Biologi di Indonesia 'sangat memprihatinkan dan tidak seimbang dengan jumlah keanekaragaman hayati tanah air yang begitu melimpah. Menurutnya, dari sekitar 9000 peneliti di Indonesia, ahli taksonomi hanya berjumlah 174 orang. Padahal berdasarkan data World Conservation Monitoring Centre of the United Nations Environment Programme (UNEP-WCMC) yang dirilis pada tahun 2004, Indonesia menempati peringkat ketiga keanekaragaman hayati terbesar dengan kategori sebagai negara dengan jumlah spesies mammalia terbanyak pertama dan spesies ikan terbanyak kedua di dunia.

Fakta ini menunjukan bahwa Indonesia sebagai biodiversity hotspot membuka banyak sekali kesempatan untuk diteliti dan dikembangkan oleh orang-orang yang mendalami Biologi, sehingga seharusnya Biologi bagi Indonesia adalah prioritas utama dalam menjaga, mengelola, memanfaatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati bangsa dan dunia. Biologi sebagai ilmu pengetahuan dibidang kehayatan (life sciences), dalam implementasi yang optimal telah terbukti meningkatkan nilai tambah yang bermanfaat bagi pembangunan pada berbagai sektor kehidupan umat manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Temuan-temuan dibidang biologi telah dapat melestarikan keanekaragaman hayati dan memberikan nilai tambah khususnya dalam sektor kesehatan, pertanian, industri dan lingkungan.

Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang sedang melaksanakan Konferensi Nasional Tahun 2017 pada tanggal 22 Agustus 2017 menyarankan dan mendesak Pemerintah RI untuk mengakui dan menempatkan Biolog sebagai salah profesi di Indonesia yang diakui secara hukum karena menjadi salah satu garda terdepan anak bangsa yang telah berperan dalam pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia selama ini.

KOBI juga meminta Pemerintah RI untuk terus secara terbuka menginformasikan perkembangan penanganan Caledonian Sky yang dioperasikan operator tur asal Swedia, Noble Caledonia, di perairan sekitar Pulau Kri, kepulauan Raja Ampat yang telah menyebabkan rusaknya ekosistem terumbu karang pada bulan Maret 2017 lalu. KOBI menilai kejadian ini bukan saja berkaitan dengan kedaulatan bangsa Indonesia terhadap kemaritiman dan konservasi sumber daya hayatinya, namun lebih jauh kejadian ini harus dijadikan pelajaran pahit dan tidak ternilai harganya oleh bangsa Indonesia agar kejadian serupa tidak diulangi lagi di kemudian hari. Tidak lupa juga ketua KOBI menyampaikan bahwa KOBI merupakan salah satu organisasi pemrakarsa LAMSAMA yang berstatus resmi keberadaannya dan status hukumnya sah telah tercantum dalam Surat Pernyataan No. 068/B/LL/2017 tanggal 1 Februari 2017 oleh Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti. Selain laporan ketua KOBI, pemaparan laporan Keuangan oleh bendahara KOBI yang diwakili oleh Sekretaris KOBI yaitu Dr.Dhira Satwika, M.Sc (UKDW), pemaparan tentang kurikulum oleh Yulia Sistina, Ph.D (UNSOED), pemaparan tentang jaminan mutu oleh Dr. Rodiyati Azrianingsih (UB) dan pemaparan tentang jurnal oleh Dr. Iman Rusmana (IPB). Acara yang disertai dengan beberapa sesi tanya jawab oleh peserta membuat suasana konferensi menjadi lancar seiring banyaknya peserta yang memberikan pertanyaan, saran dan kritik agar KOBI kedepan lebih baik. Acara yang berlangsung tertib juga disertai juga dengan pemaparan tentang prodi Bioteknologi oleh Dr. Adi Pancoro (ITB) dan terakhir pemaparan dari Dewan Penasehat KOBI tentang sejarah berdirinya KOBI. Sebagai panitia pelaksana dalam hal ini dari USU memberikan berupa Cendramata dari USU kepada seluruh pembicara sebagai kenang-kenangan. Pada akhir acara konferensi, Dekan FMIPA USU dalam hal ini diwakili oleh Wakil Dekan I yaitu Dr. Nursahara Pasaribu, M.Sc menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah mensukseskan acara dari awal hingga selesai.